Borneo today – Pemerintah diminta untuk tidak lengah dalam mengantisipasi potensi masuknya varian baru Covid-19 BA.3.2, atau yang lebih populer dengan sebutan varian “Cicada”. Meski hingga saat ini kasus tersebut belum ditemukan di tanah air, langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini agar Indonesia tidak kecolongan.

Peringatan ini disampaikan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi. Menurutnya, pemerintah wajib peka dalam membaca sinyal awal penyebaran virus ini di kancah internasional. Ia menekankan bahwa kewaspadaan ini bukan untuk memicu kepanikan di masyarakat, melainkan sebagai bentuk kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional di masa pascapandemi.

“Dinamika global memperlihatkan bahwa pergerakan virus masih sangat sulit ditebak, apalagi mobilitas antarnegara sekarang sangat tinggi,” ujar politisi dari Fraksi Nasdem tersebut dalam keterangan resminya, Rabu (8/4/2026).

Nurhadi menilai, hal yang paling krusial saat ini bukan hanya soal status keberadaan varian tersebut di Indonesia, melainkan seberapa tangguh kapasitas deteksi dini yang dimiliki negara. Belajar dari pengalaman pahit pandemi sebelumnya, sering kali terjadi keterlambatan respons kebijakan dibandingkan dengan cepatnya penyebaran varian baru di lapangan.

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk memperluas jangkauan genomic surveillance. Menurutnya, pengawasan genetik ini tidak boleh hanya bertumpu di kota-kota besar saja, tapi harus merata ke seluruh pelosok daerah.

Selain penguatan sistem, Nurhadi juga menyoroti pentingnya pola komunikasi publik yang tepat. Pemerintah diharapkan mampu memberikan informasi yang transparan tanpa membuat warga cemas berlebihan. Di sisi lain, masyarakat tetap diimbau untuk menjaga pola hidup sehat, seperti memakai masker saat sedang tidak fit atau berada di kerumunan, serta melengkapi vaksinasi booster terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi.

“Kita butuh skenario lintas sektor yang matang sejak sekarang. Jangan sampai kelalaian dalam membaca tanda-tanda awal justru membawa dampak buruk yang luas bagi sektor kesehatan maupun ekonomi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, varian “Cicada” atau BA.3.2 kini tengah dalam pantauan serius Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Varian ini menjadi sorotan karena memiliki tingkat mutasi yang cukup banyak dan sudah menyebar di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga Inggris. Di Amerika sendiri, jejak varian ini bahkan telah ditemukan di sampel air limbah di 25 negara bagian.

Meskipun penyebarannya terpantau luas, para ahli kesehatan sejauh ini menyebutkan bahwa varian Cicada belum menunjukkan tanda-tanda lebih berbahaya atau menyebabkan gejala yang lebih berat dibandingkan varian-varian sebelumnya.