Ekonomi Indonesia 2026: Stabil di Dalam, Waspada di Luar; Pengamat Ingatkan Pebisnis Jangan Pasif
Borneo today – Memasuki tahun 2026, wajah perekonomian Indonesia menunjukkan kondisi makro yang cenderung kokoh dan stabil. Meski menjadi modal kuat bagi dunia usaha untuk menyusun rencana jangka panjang, situasi ini tetap dibayangi oleh awan mendung ketidakpastian global yang belum sepenuhnya reda.
Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang moderat dan angka inflasi yang terjaga memberikan pondasi yang cukup bagi para pelaku bisnis. Namun, tantangan nyata tetap muncul dari sisi volatilitas nilai tukar, ketegangan geopolitik internasional, serta sensitivitas arus modal yang sulit ditebak.
Pandangan ini diperkuat oleh Dr. Raden Aswin Rahadi, akademisi dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB. Menurut anggota Kelompok Riset Risiko Bisnis dan Keuangan ini, stabilitas domestik yang dibarengi gejolak global seharusnya menjadi sinyal bagi para pengusaha untuk segera mengubah sudut pandang mereka.
“Indonesia sebenarnya sudah melampaui fase pemulihan setelah pandemi. Namun untuk melompat ke tahap pertumbuhan berikutnya, kita butuh kerja ekstra dan eksekusi yang jauh lebih disiplin,” ujar Aswin saat memberikan keterangan di Bandung, Senin (12/1).
Ia juga mengingatkan agar para pelaku usaha tidak terlena dengan kondisi yang tenang ini. Menurutnya, stabilitas bukanlah alasan untuk berdiam diri atau bersikap pasif. Peluang di tahun 2026 tetap terbuka lebar bagi mereka yang memiliki arah strategis yang tajam.
Aswin menyoroti bahwa banyak perusahaan yang justru berisiko kehilangan momentum karena memilih untuk “menunggu” hingga situasi global benar-benar tenang. Padahal, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5%, kunci keberhasilan justru terletak pada peningkatan produktivitas internal, bukan sekadar berharap pada faktor eksternal yang menguntungkan.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah pada 2026 yang fokus pada ketahanan pangan, energi, serta pertumbuhan ekonomi inklusif akan menjadi warna baru dalam lanskap bisnis. Aswin menekankan pentingnya perusahaan menyelaraskan strategi mereka dengan program pemerintah agar pemanfaatan sumber daya menjadi lebih efektif.
Selain itu, transformasi digital dan pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dianggap sebagai harga mati untuk menjaga daya saing. Di tengah ketidakpastian, fleksibilitas dalam menanggapi regulasi dan perubahan pasar menjadi sumber ketahanan utama bagi sebuah organisasi.
Menutup pernyataannya, Aswin menegaskan bahwa “kepercayaan” akan menjadi mata uang paling berharga di tahun 2026. Investor dan konsumen akan jauh lebih selektif dalam memilih mitra bisnis yang memiliki kredibilitas dan komitmen jangka panjang.
“Peluang itu selalu ada. Namun, hanya mereka yang memiliki disiplin dan konsistensi yang benar-benar bisa memetik hasilnya di tengah tantangan yang ada,” pungkasnya.




Tinggalkan Balasan