BUNDARAN BESAR BERGEMURUH! FBIM 2026 Resmi Dibuka, Agustiar Sabran: “Budaya Tak Boleh Tumbang!”

Borneotoday.id | Palangka Raya
Ledakan warna, dentuman musik tradisional, dan lautan manusia menyatu di jantung kota. Minggu pagi (17/5/2026), Bundaran Besar berubah menjadi panggung raksasa saat Festival Budaya Isen Mulang 2026 dan Kalteng Expo resmi dibuka.
Bukan sekadar festival ini adalah pernyataan.
Bahwa budaya Kalimantan Tengah masih hidup, berdenyut, dan menolak dilupakan.
Sejak pagi, ribuan warga menyerbu pusat kota. Jalanan dipenuhi manusia, trotoar tak lagi cukup menampung antusiasme. Kamera terangkat, sorak menggema, dan setiap langkah peserta karnaval disambut tepuk tangan.
Di atas panggung, Gubernur Agustiar Sabran tampil dengan balutan busana adat yang mencolok. Namun yang paling mencuri perhatian bukan hanya penampilanmelainkan pernyataannya yang keras dan tanpa kompromi.
“Sekalipun bumi runtuh, adat budaya ini harus kita lestarikan!”
Kalimat itu meledak, menggema di tengah kerumunan, disambut riuh tepuk tangan ribuan orang.
Sementara itu, di jalanan, pertunjukan sesungguhnya berlangsung tanpa jeda.
Kontingen dari seluruh penjuru Kalimantan Tengah berparade membawa identitas masing-masing. Hiasan kepala menjulang, kostum etnik berkilau, hingga replika raksasa yang memukau mata. Setiap langkah bukan sekadar pertunjukan, melainkan representasi sejarah, tradisi, dan kebanggaan daerah.

Tema “Culture for Dignity” terasa nyata. Bukan slogan kosong melainkan energi yang mengalir di setiap sudut acara.
Di sela kemeriahan, denyut ekonomi ikut bergerak. Stan UMKM dipadati pengunjung, transaksi terjadi, dan Kalteng Expo menghadirkan ratusan peserta dari berbagai sektor mulai dari pemerintah, BUMN, hingga pelaku usaha lokal.
Penjabat Sekda Kalteng, Linae Victoria Aden, menegaskan bahwa festival ini bukan hanya panggung budaya, tetapi juga mesin penggerak ekonomi daerah.
FBIM 2026 akan berlangsung hingga 23 Mei, tersebar di berbagai titik strategis di Palangka Raya. Namun satu hal sudah jelas sejak hari pertama:
Festival ini bukan hanya tentang merayakan masa lalu tetapi tentang memastikan budaya tetap berdiri di masa depan.
Dan di Bundaran Besar hari itu, Kalimantan Tengah membuktikan satu hal dengan lantang:
Budaya mereka belum selesai justru sedang berbicara lebih keras dari sebelumnya.
F12L




Tinggalkan Balasan